RS01: Beban yang Menjadi Ringan
Beban yang Menjadi Ringan
Matius 11 ayat 28 sampai 30 "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."
Rasa lelah sering kali muncul bukan karena kurang tidur. Kelelahan yang mendalam biasanya berasal dari beban pikiran yang tidak pernah berhenti. Urusan ekonomi, masalah keluarga, atau pekerjaan yang menumpuk membuat hati terasa sesak. Ada kecenderungan manusia untuk mencoba menyelesaikan semua persoalan sendiri sampai batas kekuatan habis. Mengapa beban hidup sering kali terasa begitu menghimpit batin?
Dalam bagian Alkitab ini, TUHAN Yesus memberikan ajaran yang sangat menarik. Dia tidak menyuruh setiap orang berhenti bekerja atau lari dari tanggung jawab sehari-hari. Dia justru menawarkan sebuah "kuk". Arti sederhananya (kuk) adalah alat kayu yang dipasang pada leher dua ekor hewan untuk menarik alat pembajak secara bersama-sama.
Masyarakat pada zaman itu tahu bahwa sekeping kayu kuk tidak pernah dipasang hanya untuk satu ekor hewan. Kuk selalu dipasang berpasangan. Biasanya, seekor lembu muda yang belum berpengalaman akan dipasangkan dengan lembu dewasa yang jauh lebih kuat. Lembu dewasa inilah yang sebenarnya menarik sebagian besar beban berat tersebut. Lembu muda hanya perlu berjalan beriringan dan belajar menyamakan langkah kaki.
Melalui gambaran ini, TUHAN Yesus ingin menunjukkan bahwa tidak ada orang yang perlu berjalan sendirian. Menerima ajakan-Nya berarti bersedia melangkah bersama-sama dengan Dia. Ajaran ini sejalan dengan janji lama di dalam Kitab Nabi Yesaya 40 ayat 29, yang menyatakan bahwa Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya. Beban hidup mungkin tidak langsung hilang, tetapi terasa jauh lebih ringan karena TUHAN yang menarik bagian terberatnya.
TUHAN Yesus mengajak orang-orang yang lelah hidupnya untuk datang bersandar dan belajar menyamakan langkah dengan diri-Nya.Orang percaya dapat menikmati ketenangan batin yang sejati ketika tidak lagi memaksakan diri memikul beban hidup sendirian.
- Membawa beban dalam doa. Menyampaikan beban ekonomi atau pekerjaan kepada TUHAN di awal hari secara jujur melalui doa pribadi. Belajarlah melepaskan kendali dan menaruh kekhawatiran itu ke dalam tangan-Nya, seperti nasihat dalam 1 Petrus 5 ayat 7, daripada memendam atau memikirkannya sendiri sepanjang hari.
- Menyadari kehadiran TUHAN. Mengambil waktu sejenak di sela kesibukan untuk menyadari penyertaan TUHAN. Sembari bekerja, ingatlah ilustrasi sepasang hewan yang menarik bajak bersama di sawah. Saat tanah terasa keras dan melelahkan, ingatlah kembali bahwa ada Rekan yang jauh lebih kuat yang sedang berjalan bersama dan menopang setiap langkah.
Istirahat yang sesungguhnya bukanlah tentang hilangnya semua urusan atau pekerjaan. Istirahat sejati adalah hadirnya TUHAN yang berjalan bersama di tengah-tengah kesibukan tersebut. Ketika hati terasa sangat lelah, hal itu mungkin menjadi tanda adanya usaha untuk menarik bajak kehidupan ini sendirian. Datang kepada-Nya, mengambil kuk-Nya, adalah jalan untuk menemukan ketenangan bagi jiwa. Sudahkah beban hidup itu dibagikan bersama TUHAN hari ini?




